Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer
Selamat Datang Di AgungEdu My ID Jangan Lupa untuk Comment dan Follow Website serta Medsos kami

Diseminasi Budaya Positif

 Membangun Budaya Positif di Sekolah


Budaya merupakan pikiran; akal budi; kebiasaan yang berulang dan sulit dirubah (KBBI: https://kbbi.kemdikbud.go.id/entri/Budaya). Disiplin berasal dari bahasa latin “disciplin” yang artinya BELAJAR. Dalam KBBI online disiplin bermakna bidang studi yang memiliki objek, sistem, dan metode tertentu. Budaya Positif Sekolah Budaya Positif di sekolah adalah nilai-nilai, keyakinan, kebiasaan-kebiasaan di sekolah yang berpihak pada murid agar murid dapat berkembang menjadi pribadi yang kritis, penuh hormat, dan bertanggung jawab. Dapat dijalankan dengan menerapkan konsep-konsep inti seperti disiplin positif, memahami motivasi perilaku manusia berkaitan dengan hukuman dan penghargaan, posisi kontrol seorang guru, pembuatan keyakinan kelas/sekolah dan penerapan segitiga restitusi dalam penyelesaian masalah.

Budaya positif dibangun dengan nilai-nilai kebajikan universal, keyakinan, kebiasaan yang positif tentunya. Ragam nilai-nilai kebajikan seperti: tepat waktu, jujur, tanggung jawab, percaya diri, teratur, antre, dsb. hal tersebut dapat menjadi sebuah keyakinan, yang disepakati bersama sebagai sebuah acuan. acuan tersebut dapat digunakan sebagai kontrol pada prilaku murid. berikut contoh membuat keyakinan kelas/sekolah dapat dilihat pada video berikut: 

https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/video/669089

Ketika sesorang berbuat tentu karena adanya motivasi diri seperti untuk menghindari ketidaknyamanan/hukuman, diterima atau dihargai, dan memperoleh kesenangan atau tujuan yang diyakini. Kebutuhan dasar juga menjadi landasan seseorang berprilaku, seperti; untuk bertahan hidup; penguasaan; kebebasan; dan kesenangan. hal tersebut yang mendasari seseorang berprilaku. dalam teori kontrol memandang sesuatu beragam, kebutuhan masing-masing berbeda, cara pandang berbeda, orang lain tidak dapat merubah seseorang, jika yang bersangkutan tidak merubah dirinya. namun orang dapat memberikan sebuah bujukan, ajakan, rayuan, bahkan paksaan sebagai kontrol.

Hukuman dan penghargaan memiliki sisi negatif dalam membentuk kedisiplinan/keteraturan, hukuman akan berakibat pada fisik dan psikis murid, bahkan muncul rasa dendam jika jangka panjang. penghargaan juga jika terus diberikan akan membuat murid melakukan sesuatu hanya untuk mendapat hadiahnya, selain itu akan muncul iri dengki siswa yang lain jika tidak terkontrol. Hukuman dan penghargaan akan mematikan potensi anak Alfie Kohn (Punished by Rewards, 1993, Wawancara ASCD Annual Conference, Maret 1995). 

Konsekuensi dan Restitusi merupakanan penanganan prilaku anak dengan positif. Konsekuensi merupakan aturan yang memberikan sanksi namun murid mengerti makna sanksi tersebut dibandingkan hukuman yang seorah dan siswa terkadang tidak memahami kesalahannya. Konsekuensi dibuat Guru/Sekolah sifatnya sanksi untuk membuat paksaan untuk merubah prilaku. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). Restitusi memberikan pendekatan yang positif untuk menyadarkan kembali murid kepada keyakinan-keyakinan/nilai-nilai kebajikan. Konsekuensi dan Restitusi merupakan Disiplin dengan Identitas Sukses maknanya murid kembali keprilaku Positif dan karakternya. berikut rangkaian merestitusi prilaku murid dengan segitiga restitusi, yakni: Menstabilkan identitas/emosi murid; memvalidasi kesalahan/fokus masalah yang akan diperbaiki; dan keyakinan untuk menguatkan karakter serta solusi perbaikan jangka panjang, dapat dilihat pada video berikut:

https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/video/669012

Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa Disiplin sekolah merupakan proses belajar, disiplin harus lahir dari rasa merdeka mampu mengontrol diri siswa untuk bertanggungjawab, motivasi moncul dari diri siswa untuk memenuhi kebutuhan dasar, perlu suatu kontrol yang dilakukan dengan posisi kontol guru, motivasi untuk disiplin muncul bukan karena hukuman atau penghargaan, malainkan kesadaran diri atas konsekuensi dari keyakinan, kerika siswa melakukan kesalahan dlam memenuhi kebutuhan dasarnya maka direstitusi bukan dihakimi/atau dihukum baik fisik maupun verbal.





Posting Komentar untuk "Diseminasi Budaya Positif"