Pendidikan Demokrasi
Praktik Demokrasi di Sekolah Dasar.
A. PENDAHULUAN
Pendidikan kewarganegaraan merupakan mata pelajaran wajib yang harus ada pada kurikulum dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi, salah satu muatan materinya adalah pendidikan demokrasi, demokrasi merupakan suatu sistem pemerintahan yang mengabdi pada kepentingan rakyat, pemerintah dibentuk dari, oleh dan untuk rakyat. Dalam demokrasi merupakan menghormati hak-hak rakyat, sehingga dalam kehidupan sehari-hari setiap individu dapat menggunakan haknya namun tidak mengganggu hak orang lain sesuai aturan-aturan yang berlaku, maka hak dan martabat seseorang dapat dijaga dengan baik, tidak diganggu atau dirugikan.Sekolah merupakan penerapan praktik demokrasi yang ideal namun demokrasi juga harus ada disemua sendi keidupan di rumah, di lingkungan masyarakat dan negara. Jika semua telah memahami dan melaksanakan demokrasi maka tidak akan ada kesenjangan-kesenjangan di masyarakat.Untuk mendukung jalannya proses atau praktik demokrasi semua memiliki peran, di sekolah dituntut guru mampu mengajarkan demokrasi pada peserta didik dengan praktik-praktik atau pembiasaan dalam kegiatan belajar, orang tua memiliki peran utama dalam demokrasi mencontohkan kepada anak-anaknya sehingga mereka menjadi warga masyarakat yang demokratis, maka sinergi antara sekolah, dan orang tua penting dalam pendidikan demokrasi. Apa saja bentuk-bentuk demokrasi di sekolah dan orang tua?, Bagaimana pelaksanaan demokrasi di sekolah dan peran orang tua? dan Apa saja kelebihan dan kekurangan praktik tersebut?
B. PEMBAHASAN
1. Praktik penerapan Demokrasi untuk siswa di sekolah
a. Siswa bebas dalam memilih tempat duduk,
Siswa diperbolehkan berpindah tempat dengan beberapa kesepakatan bersama diawal belajar misalnya siswa yang datang lebih awal bisa saja duduk di depan, tengah atau di belakang. Kelebihannya: terjadi variasi penempatan siswa sehingga siswa tidak bosan.Kekurangan: siswa sering memilih, siswa pintar dengan pintar, siswa aktif dengan aktifSebagai solusi: diadakan cabut nomor tempat duduk dilakukan setiap bulan atau kesepakatan, jika khawatir aktif dengan aktif berkumpul maka antara cabut nomor siswa laki-laki dipisah sehingga nanti terjadi selang seling laki-laki perempuan
b. Siswa memilih dan dipilih menjadi ketua dan wakil ketua kelas.
Guru memberi pemahaman tentang pemilihan ketua atau wakil ketua kelas, misalnya yang akan dipilih dari empat calon, silahkan mengajukan nama-nama, jika empat calon nama telah disepakati dilakukan dua opsi yaitu musyawarah secara aklamasi atau dengan voting.Kelebihannya: siswa menjadi paham pentingnya musyawarah dan voting jalan terakhir jika tidak terjadi mufakat.Kekurangan: pada proses pengajuan nama menjadi gaduh atau rame karena semua ingin mencalonkan, kemudian yang mencalonkan hanya anak yang aktif.Solusi: ketika kelas menjadi gaduh/rame guru segera mengambil ini siatif beberapa nama calon dan dilanjutkan musyawarah atau voting untuk memilih ketentuannya suara terbanyak menjadi ketua, terbanyak kedua wakil dan seterusnya.
2. Praktik penerapan Demokrasi untuk orang tua di sekolah
a. Pemilihan pengurus komite,
Pemilihan pengurus komite sekolah dengan sekolah mengundang seluruh orang tua atau wali murid untuk melaksanakan pemilihan ketua dan anggota komite sekolah, proses pemilihan diawali dengan pengajuan nama-nama calon, setelah muncul nama calon dilakukan musyawarah, jika tidak tercapai mufakat maka dilakukan voting dengan terbanyak pertama ketua, suara terbanyak kedua sekretaris dan seterusnya.Kelebihan: dengan proses pemilihan pengurus komite sekolah yang demokrasi akan muncul orang tua yang kompeten, yang dianggap mampu menjalankan program komite dengan rekap jejak para calon dimasyarakat.Kekurangan: sering terjadi nepotisme, jika salah satu calon dari mayoritas masyarakat walau memiliki rekam jejak tidak baik justru terpilih.Solusinya: pihak memberi wawasan sebelum pemilihan dilakukan agar praktik penyimpangan demokrasi tidak terjadi.
b. Rapat pembangunan pagar sekolah,
Pada awalnya komite dan sekolah menyusun program kerja beserta anggaran, kemudian ditentukan hari yang tepat untuk musyawarah komite, setelah rencana pragram dan rencana anggaran pembangunan (RAP) sudah tersusun, maka susunan tersebut disampaikan kepada peserta rapat, dipaparkan program, anggaran serta teknis dilapangan, sampai keputusan mufakat tercapai.Kelebihan: semua transparan dan dilakukan dengan musyawarah.Kekurangan: sering terjadi rencana anggaran yang dilebihkan atau dalam praktiknya mengurangi spesifik bangunan yang telah disepakatiSolusinya: semua mengawasi baik masyarakat maupun pihak sekolah agar hasil maksimal, sekolah harus netral dan tidak mencampuri penyusunan dan pengerjaan jangan sampai terjadi praktik korupsi baik pihak komite atau sekolah berperan dalam praktik korupsi tersebut.
C. KESIMPULAN DAN SARAN
1. Kesimpulan
Pendidikan demokrasi harus ditanamkan sejak dini kepada peserta didik guru harus mampu mengaitkan kepada proses pembelajaran di kelas, dan praktik demokrasi juga harus diterapkan kepada orang tua, sehingga orang tua juga memberi dan menjadi contoh demokrasi kepada anaknya dalam kehidupan sehari-hari di dalam keluarga, sehingga akan terbentuk masyarakat sebagai warga negara demokrasi.
2. Saran
Dengan penanaman pendidikan demokrasi melalui praktik konkret membentuk masyarakat Indonesia yang jujur, tanggung jawab dan anti korupsi. by agungeduku.
Posting Komentar untuk "Pendidikan Demokrasi"